Cinta Yang Meraja

Kepulan debu terlihat dari kejauhan
Teriakan, suara lecutan cambuk dan sorakan mulai terdengar
Arak-arakan yang panjang menuju Kalvari memecah kedamaian pagi

Tentara romawi dengan pongahnya, terbahak bengis mencambuki Sang Pembawa Salib
Kayafas tersenyum mengejek, menyeringai bagai serigala berbungkus pakaian imam besar

Lalu aku pun bersijingkat mendekati iring-iringan
Ku lihat Sosok yg penuh darah tersungkur
Tertindih kayu salib yang dipikulnya
Bermahkotakan duri tajuk kejam
Darah membasahi tanah dan kayu salib
“Apa kesalahan Orang ini sehingga disiksa sedemikian rupa?”
“Barabas-kah ia??” Tanya batinku

Ia mulai bangkit & melirik tepat ke arahku
Mak tratab
Duh Gusti
Pedih menikam hati
Mata teduh itu ku kenal
Tersirat tatapan ikhlas menanggung segala

Terbayang waktu lalu Ia menyembuhkanku bersama sembilan orang lainnya
Penyakit kusta yang mengasingkan kami, menjauhkan kami dari orang-orang tercinta
Dan ditahirkannyalah kami, dibebaskanlahnya kami
Dan aku tak tahu diri
lupa berterima kasih pada bilur-bilurNYA yang menyembuhkanku

Buluh yang terkulai tak kan dipatahkanNYA
Hidupku menjadi bakoh utk melangkah riang
Sumbu yang telah pudar tak kan dipadamkanNYA
Madah api yang lindap Kau pedulikan
Kau sulut hidupku sehingga sulur2ku menari-nari
Hidupku begitu berharga bagiMU

Dan kini, tatkala melihatMU, bertunaskan gentarlah aku
Seperti berjelaga aku dihadapanMU

Dan Engkau sendirian di situ
Dimanakah si pemberani Petrus?
Dimanakah ke dua belas muridMu?
Dimanakah lima ribu orang itu?
Dan dimanakah aku?
[Eko Putro Mardianto]

Close Menu